Rabu, 30 Oktober 2013

RENUNGAN & KISAH INSPIRATIF

 
KAPAN MAU MELAMAR SAYA?

Saat ada seorang lelaki yang dekat denganmu, lalu ditanya, "Kapan mau melamar saya?"

Jawabannya macem-macem:

"Kita kan baru setahun kenalan, belum terlalu mengenal kamu dan keluarga".
Alasan klasik, ngapain aja setahun Masbro? Emangnya mau 8 semester, keburu diwisuda dong?

"Nanti ya, kalau saya udah sukses!"
Wah, ini sih lelaki yang AMBIGU. Sukses itu kan definisinya luas, usia 40 tahun aja bisa belum sukses tuh.. Udah End aja!

"Saya takut orang tua kamu nggak ngizinin aku menikahi kamu!"
Dicoba aja belum! Gak gentle ah. Lelaki itu pejuang cinta sejati dong!

"Aku mau memperbaiki diri dulu. Baru aku nikahi kamu!"
Bagus sih, tapi kok masih jalan berdua, masih smsan, masih teleponan. Bukannya baik itu di mata Allah.

"InsyaAllah Mei"
Inget loh insyaAllah itu pasti. Jangan insyaAllah Meibi yes, meibi no.
Kalau Mei nggak ngelamar juga, tinggalkan!

"Kita tunangan aja dulu ya, 2 tahun lagi baru nikah!"
Hufhh.. Ini nih tipe lelaki "Pemancing Ikan". Udah dapet ikannya, dibarin tersangkut di kail. Dimasak kalau udah membusuk. Terus dia seenaknya mancing ikan lain. Jangan percaya MySist!

Lelaki yang berniat baik takkan mempermainkan perasaanmu
Lelaki yang baik takkan menunda untuk melamarmu
Lelaki yang baik berani mendatangi kedua orang tuamu.

Setujuu atau setuju banget??
 
"Terkadang, kepedihan harus di lalui sebelum
tercapainya kebahagiaan.
Tersenyumlah ketika
bersedih, karena akan ada
kebahagiaan setelah itu"

InsyaAllah..

Ya Allah, jangan biarkan hati kami selalu
berduka dan sedih, namun biarkan lah
hati kami selalu bersyukur
dan bahagia atas karunia-Mu..

Aamiin ya Rabbal'alamin..
 
 
= Kisah Perjalanan Religius Budiman Sudjatmiko di Tanah Haram =

Secara tak terduga setelah berpisah selama 20 tahun, wartawan Suara Islam bertemu kembali dengan sahabat lama sesama aktivis mahasiswa di Jogjakarta era tahun 1990-an, Budiman Sudjatmiko, yang sekarang menjadi tokoh muda PDIP dan anggota Komisi II DPR RI. Memang sewaktu kuliah di UIN Sunan Kalijaga, wartawan Suara Islam banyak bersahabat dengan sesama aktivis mahasiswa yang sekarang sudah menjadi orang penting di negeri ini, seperti Muhaimin Iskandar (Ketua Umum PKB dan Menakertrans), Andi Malarenggeng (mantan Menpora), Rizal Malaranggeng (Direktur Freedom Institute), Andi Arief (Staf Khusus Presiden SBY), Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), juga dengan para tokoh dan aktivis mahasiswa Islam di Jogjakarta.

Pertemuan dengan Budiman terjadi secara tak sengaja setelah wartawan Suara Islam melakukan Umrah yang disambung dengan sholat subuh di Masjidil Haram, Jum’at (11/10). Ternyata pada waktu yang sama Budiman juga melakukan Umrah dengan miqat dari Bir Ali di Madinah. Sebab Budiman sudah berada di Madinah selama dua hari bersama anggota Komisi VIII DPR, namun dia ibadah haji dengan biaya sendiri sebab bukan petugas pemantau haji sebagaimana anggota Komisi VIII DPR.

Ketika wartawan Suara Islam berkeliling Masjidil Haram untuk melihat-lihat perkembangan pembangunannya seusai sholat subuh, secara tidak segaja di depan Bab al Marwah bertemu dengan Budiman. Tentu saja pertemuan dengan sahabat lama yang sudah berpisah selama 20 tahun dan terjadi di Masjidil Haram, tempat tersuci di dunia sangatlah mengharukan. Setelah diselingi ngobrol mengenai nostalgia masa kuliah di Jogjakarta, penulis barulah tahu ternyata mantan tahanan politik Orde Baru itu lagi sedih, sebab baru saja sabuk ihram, kartu alamat hotel di Makkah dan sejumlah uangnya hilang ketika melakukan thawaf mengelilingi Kabah di dekat Multazam.

“Alhamdulillah, ditengah saya lagi kebingungan seorang diri karena kehilangan, saya dipertemukan Allah Swt dengan sahabat yang sudah 20 tahun berpisah dan ketemunya justru di Masjidil Haram di Makkah al Mukarramah, tanah haram yang sangat mulia ini,” ungkap Budiman mengisahkan pertemuan dengan wartawan Suara Islam yang sangat mengharukan tersebut.

Terdapat hal yang menarik yang diceritakan Budiman kepada wartaawan Suara Islam, dan ternyata mantan pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) di era repressif Orde Baru ini sekarang telah berubah menjadi seorang yang memiliki religiusitas tinggi. Tokoh muda kelahiran Cilacap 10 Maret 1970 ini adalah cucu tokoh Muhammadiyah Cilacap. Maka tidaklah mengherankan jika Budiman juga Alumni SMA Muhammadiyah 1 Jogjakarta. Jasa Budiman terhadap demokrasi di negeri ini adalah berani mendobrak kebekuan politik dengan mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) diluar sistim Orde Baru yang hanya mengakui tiga partai saja yakni PPP, Golkar dan PDI.

Meski berada di Madinah hanya dua hari, ternyata Budiman telah melakukan sholat lima waktu sebanyak tujuh kali waktu sholat di Raudhah, tempat paling mustajab di Masjid Nabawi. Raudhah yang terletak antara makam dengan mimbar Nabi Muhammad Saw tersebut luasnya hanya 330 m2 (15m x 12m). Raudhah adalah bangunan Masjid Nabawi yang asli dizaman Nabi Muhammad Saw, dimana dalam sebuah hadisnya Nabi Muhammad Saw menyebutkan Raudhah adalah taman diantara taman-taman di jannah (surga). Maka tidaklah mengherankan jika umat Islam selalu berjubel untuk sholat di Raudhah.

Budiman mengakui ketika dirinya pertama kali sholat di Raudhah, air mata sudah tidak bisa dibendung lagi apalagi ketika disebelahnya terdapat makam Rasulullah Saw beserta dua sahabatnya, Abu Bakar ash Shiddiq Ra dan Umar bin Khattab Ra. Tangisan itu juga selalu terjadi pada enam kali waktu sholat lainnya di Raudhah.

“Dari berbagai buku bacaan, saya sangat meresapi perjuangan Nabi Muhammad Saw dan seolah-olah saya sekarang sedang berada disampingnya. Nabi Muhammad Saw tidak hanya tokoh panutan di dunia tetapi juga di akhirat. Nabi Muhammad Saw adalah manusia agung yang akan menyelamatkan kehidupan saya di dunia maupun di akhirat kelak,” ungkap Budiman dengan air mata berlinang.

Tokoh muda lulusan Inggris yang semula pernah dituduh pro Komunis itu mengakui, dirinya sudah menziarah makam tokoh-tokoh terkenal baik di Indonesia maupun sejumlah negara di Eropa, namun sepertinya tidak menimbulkan perasaan religius apalagi sampai nangis sesengukan. Namun ketika menziarahi makam Nabi Muhammad Saw, ada peraasaan lain yang masuk kedalam lubuk hatinya, sehingga menyebabkan dirinya bercucuran air mata.

Budiman mengakui, dirinya terakhir kali nangis sesengukan ketika bertemu dengan ayah dan ibundanya tercinta sewaktu dibebaskan dari tahanan politik Orde Baru selama 3,5 tahun karena dituduh terlibat peristiwa 27 Juli 1996 yang dikenal dengan Kudatuli, dimana kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat diserbu pasukan tak dikenal yang menyebabkan kerusuhan meledak di Ibukota dan sejumlah korban berjatuhan. Meski semula divonis 13 tahun penjara, namun Budiman segera dibebaskan oleh Presiden Gus Dur setelah terjadinya reformasi.

“Saya menyesal mengapa pergi Ibadah haji sendirian tidak dengan istri. Insya’ Allah tahun depan saya akan kembali ke tanah suci untuk Umrah bersama istri,” ungkap Budiman yang sekarang terlihat semakin religius, dari semula sekuler sekarang kembali kepada Islam...
Ketika Cinta Datang Tidak Pada waktunya

Taburan taburan benih cinta mulai menyebar di hatiku yang rapuh, tak berdaya untuk menolaknya. Cinta itu semakin tumbuh subur, kebahagiaan yang semu kualami saat cinta itu mulai mengalun. Hari-hari ku terasa indah, angan ku mulai melayang layang entah kemana, kata-kata indah itu slalu menebarkan kebahagiaan di hati. Hal itu kurasakan hal yang biasa, karna itu semua kodrat seorang insan untuk merasakan getaran-getaran cinta pada lawan jenis. Tak bisa dipungkiri saat cinta menjelajahi hati ini semuanya akan terasa indah, lalai akan segalanya, lalai akan cinta yang khaqiqi yaitu cinta sang Khaliq cinta yang tiada tara keabadiaannya dan keindahannya. Selang waktu bergulir sedikit kepiluan muncul didalam hati ini. Gundah kurasakan, karna kutersadar kumencintai orang yang belum pasti khalal bagiku. Kumerindu pada seorang yang mungkin bukan pemimpinku.

Ya Allah… Ampunilah Hamba …
Ku tak bisa meredam bara cinta api ini, kutelah lalai untuk meraih cinta khaqiqi yang dimiliki oleh Mu ya Allah…
Kutelah membiarkan rasa cinta yang tidak semestinya kurasakan untuk saat ini ya Allah…
Aku telah menodai cinta ini… cinta untuk seorang yang telah Kau tentukan untuk ku ya Allah… Astaghfirullah… Rasa cinta ini kini membuatku terasa hina, penyesalan yang tiada tara.
Kegundahan dalam hati slalu muncul tak menentu,, ya Allah Kulalai akan meraih cinta Mu…
Kulalai Akan Pemimpinku yang telah ditentukan olehMu, kutelah membuat sekenario sendiri, kulalai akan sekenariomu.

Ya Allah… Bantulah Hambamu ini untuk meredam cinta yang tak suci, cinta semu yang tak tentu jadi milikku,,,
Ya Allah… Lindungilah Hati ini …
Jagalah Hati ini….
Untuk cinta yang kan menjelajah hati ini sebelum waktu yang tepat itu datang kepadaku. Kupercaya akan Sekenariomu yang pasti akan menjadikan suatu kebahagiaan yang khaqiqi.
 
 
"JOMBLO SEBELUM MENIKAH ITU MULIA"

Tak apa jadi seorang jomblo.
Daripada pacaran yang belum tentu jadi menikah.
Malah bertambah dosa yang dilakukan.
Belum lagi menjadi korban perasaan.
Karena salah menempatkan cinta pada yang belum halal.


Jomblo itu mulia.
Karena kehormatan diri tetap terjaga.
Hanya orang bodoh yang mengatakan jomblo itu gak laku.
Karena jomblo adalah pilihan.
Bukan keterpaksaan.


Daripada menghinakan diri.
Lebih baik menjaga diri.
Dari hasutan-hasutan nafsu birahi.
Yang pada akhirnya hadirkan penyesalan diri.


Wahai Akhy dan Ukhty yang memilih jomblo sebelum halal!
Berbahagialah.
Tersenyumlah.
Karena Allah sedang tersenyum kepada kita.
 
 
Dulu, aku orang yang bersifat pemarah.

Aku tidak bisa meredam amarahku setiap hari. Ayahku menyadari hal ini. Untuk mengurangi rasa amarahku, Ayahku memberikan sekantong paku dan mengatakan kepadaku agar aku memakukan paku itu ke pagar di belakang rumah tiap kali aku marah.

Hari pertama aku bisa memakukan 48 paku ke pagar belakang rumah. Namun secara bertahap jumlah itu berkurang. Aku menyadari bahwa lebih mudah menahan amarah ketimbang memaku paku ke pagar. Akihrnya aku bisa menahan dan mengendalikan amarah ku yang selama ini telah memburuku. Aku memberitakukan hal ini kepada Ayahku.

Ayahku mengatakan agar aku mencabut satu paku di pagar setiap hari dimana aku tidak marah. Hari-hari berlalu dan tidak terasa paku-paku yang tertancap tadi telah aku cabut dan lepaskan semua. Aku memberitahukan hal ini kepada Ayahku bahwa semua paku telah aku cabut.

Ayah tersenyum memandangku, dan ia menuntunku ke pagar. Dan berkata “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya.

“Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas.”

Aku menyadari hal ini bahwa aku setiap kali marah aku teringat pada orang yang aku dendam tersebut. Ayah tambah berkata

“Seperti lubang ini … di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada …dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”

Terima Kasih Ayah, kini aku dapat meredam dan mengendalikan amarahku setiap saat dan setiap waktu.
 
 
Kalung Mutiara Anisa

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.
Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji : Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya "Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.

Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten... "Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"

Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya."Terimakasih..., Ibu"
Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalungitu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya.Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...

Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya "Anisa..., Anisa sayang ngga sama Ayah ?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah ?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah ?".
"Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini. " Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya..."Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya " Kalau Ayah mau... ambillah kalung Anisa"

Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih... sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa..."Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan ?
Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"

Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa. Demikian pula halnya dengan Allah s.w.t..

Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan
 
 
Hidup itu terlalu rumit untuk ditebak
Jangan mengkhawatirkannya
Lakukan saja apa yg menurutmu benar.

Jika kamu terus membiarkan masa lalumu mengusik hidupmu saat ini, kamu tak akan pernah sampai ke masa depan yg kamu inginkan.

Jangan biarkan orang lain yang memutuskan apa yang baik untuk hidupmu, karena yang tahu apa yang terbaik adalah dirimu.

Ketika seseorang membicarakan kamu di belakangmu,
itu hanya berarti bahwa hidupmu jauh lebih menarik daripada hidup mereka.

Belajarlah tuk memuji bukan merayu, tuk menghargai bukan meniru, tuk mengagumi bukan iri, dan hidupmu akan lebih berarti.

Jangan hidup dengan topeng di wajahmu
Hidup dalam kepura-puraan hanya menyiksa diri
Tunjukkan dirimu dan katakan 'Inilah AKU'

Kabar buruknya "hidup tak akan sempurna"
Kabar baiknya "Anda tak perlu hidup yg sempurna untuk bisa menikmatinya"

Rasul saw bersabda:
مَنْ أَرادَ أنْ تُسْتَجابَ دَعْوَتُهُ وَأَنْ تُكْشَفَ كُرْبَتُهُ فَلْيُفَرِّجْ عَنْ مُعْسِرٍ
"Barangsiapa yang ingin dikabulkan doanya dan dihilangkan kesulitannya maka hendaklah menolong orang yang kesulitan".

Mari hadirkan kemudahan, bukan menyulitkan mereka yg tengah kesulitan.
 
 
Berkatalah yang baik atau diam... (Jangan mencari kesalahan orang lain)

Berkatalah yang baik atau diam, ya kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah SWT termasuk nikmat dapat berbicara. Akan tetapi, banyak yang salah menggunakan nikmat ini. Mereka tak mengerti bahwa mulut yang telah dikaruniakan oleh-Nya seharusnya dapat dijaga dengan baik dan digunakan hanya untuk kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi)


Lalu dalam hadist lain disebutkan:

“Allah memberi rahmat kepada orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapatkan keselamatan.” (HR Ibnul Mubarak)

Demikianlah, lidah seseorang itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan. Imam Ghazali telah menghitung ada 20 bencana karena lidah antara lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang lain, dsb.

Mengenai ghibah, ada ayat tersendiri dalam Al-Quran yang membahasnya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” Al-Hujurat: 12

Lebih jauh lagi manusia hendaklah dipandang dari lahiriahnya. Tidak ada seorangpun yang berhak menghukum atas bathiniyahnya. Tidak ada seorangpun yang berhak menghukum manusia kecuali berdasarkan penyimpangan dan kesalahan yang tampak. Seseorang tidak boleh menyangka, mengharapkan, atau bahkan mengetahui bahwa mereka melakukan suatu penyimpangan secara sembunyi-sembunyi lalu diselidiki untuk memastikannya. Yang boleh dilakukan atas manusia adalah menghukum mereka saat kesalahannya terjadi dan terbukti. Kita sebagai umat islam tidak berhak untuk mencari-cari kesalahan orang lain lalu menyebarkannya.

Rasulullah ditanya:

“Hai Rasulullah apakah ghibah itu?” Nabi saw menjawab: “Kamu menceritakan saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya”. Beliau ditanya lagi: “Bagaimana menurut engkau jika yang dikemukakan itu ada pada dirinya?” Nabi menjawab,”Jika yang kamu katakan itu ada pada dirinya, berarti kamu mengumpatnya. Jika tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah berdusta tentang dia” (HR Tirmidzi)

Jadi, sebaiknya kita memelihara perbuatan kita, dan jangan menghambur-hamburkan perkataan yang sekiranya dapat membahayakan kita. Umumnya manusia yang banyak omong selalu berbuat salah dan dosa. Karena itu, mukmin yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah wajib mengerti bahwa perkataan itu termasuk amalannya yang kelak akan dihisab: amalan baik maupun buruk. Karena pena Ilahi tidak mengalpakan satupun perkataan yang diucapkan manusia. Ia pasti mencatat dan memasukkannya ke dalam buku amal.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” Qaaf: 16-18

Karena itu, katakanlah yang baik agar kita mendapatkan keberuntungan, dan diamlah dari keburukan supaya kita selamat.
 
 
Emosi Datang Malu itu Hilang

Tip Cara Mengatasi Emosi Meredam Amarah/Marah yang Dapat Merugikan
Kita dan Orang Lain.
Dalam riwayat Abu Hurairah dikatakan,
Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah (H.R. Malik).

Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya.
Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.

Beberapa ciri-ciri orang yang tidak mampu mengandalikan emosinya :

1. Berkata keras dan kasar pada orang lain.
2. Marah dengan merusak atau melempar barang-barang di sekitarnya.
3. Ringan tangan pada orang lain di sekitarnya.
4. Melakukan tindak kriminal / tindak kejahatan.
5. Melarikan diri dengan narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dsb.
6. Menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam.
7. Dendam dan merencanakan rencana jahat pada orang lain. dsb...

Beberapa cara meredam amarah menurut Ajaran Agama Islam :

1. Membaca Ta’awwudz. Rasulullah bersabda Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A’uudzu billah mina-syaithaani-r-rajiim Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (H.R. Bukhari Muslim).

2. Berwudlu. Rasulullah bersabda Kemarahan itu itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah (H.R. Abud Dawud).

3. Duduk. Dalam sebuah hadist dikatakan Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah(H.R. Abu Dawud).

4. Diam. Dalam sebuah hadist dikatakan Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah (H.R. Ahmad).

5. Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadist dikatakan Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud). (H.R. Tirmidzi)
Sesungguhnya, marah maupun emosi adalah sudah menjadi sifat dan tabiatnya manusia. Namun, dalam hal ini, islam mengajarkan kita untuk dapat mengendalikan semaksimal mungkin, sehingga amarah kita tidak akan menimbulkan efek-efek yang negative.

Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah saw bersabda Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridhai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridhai (H.R. Ahmad).
Wallahua’lambishshowab.

A. Beberapa Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Diri Sendiri by organisasi.org :

1. Rasakan Yang Orang Lain Rasakan
Cobalah bayangkan apabila kita marah kepada orang lain. Nah, sekarang tukar posisi di mana anda menjadi korban yang dimarahi. Bagaimana kira-kira rasanya dimarahi. Kalau kemarahan sifatnya mendidik dan membangun mungkin ada manfaatnya, namun jika marah membabi buta tentu jelas anda akan cengar-cengir sendiri.

2. Tenangkan Hati Di Tempat Yang Nyaman
Jika sedang marah alihkan perhatian anda pada sesuatu yang anda sukai dan lupakan segala yang terjadi. Tempat yang sunyi dan asri seperti taman, pantai, kebun, ruang santai, dan lain sebagainya mungkin tempat yang cocok bagi anda. Jika emosi agak memuncak mungkin rekreasi untuk penyegaran diri sangat dibutuhkan.

3. Mencari Kesibukan Yang Disukai
Untuk melupakan kejadian atau sesuatu yang membuat emosi kemarahan kita memuncak kita butuh sesuatu yang mengalihkan amarah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan dapat membuat kita lupa akan masalah yang dihadapi. Contoh seperti mendengarkan musik, main game, bermain gitar atau alat musik lainnya, membaca buku, chating, chayang-chayangan dengan kekasih pujaan hati/pasangan, menulis artikel, nonton film box office, dan lain sebagainya. Hindari perbuatan bodoh seperti minum2an keras, make narkoba, dan lain sebagainya.

4. Curahan Hati / Curhat Pada Orang Lain Yang Bisa Dipercaya
Menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita mungkin dapat sedikit banyak membantu mengurangi beban yang ada di hati. Jangan curhat pada orang yang tidak kita percayai untuk mencegah curhatan pribadi kita disebar kepada orang lain yang tidak kita inginkan. Bercurhatlah pada sahabat, pacar / kekasih, isteri, orang tua, saudara, kakek nenek, paman bibi, dan lain sebagainya.

5. Mencari Penyebab Dan Mencari Solusi
Ketika pikiran anda mulai tenang, cobalah untuk mencari sumber permasalahan dan bagaimana untuk menyelesaikannya dengan cara terbaik. Untuk memudahkan gunakan secarik kertas kosong dan sebatang pulpen untuk menulis daftar masalah yang anda hadapi dan apa saja kira-kira jalan keluar atau solusi masalah tersebut. Pilih jalan keluar terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Mungkin itu semua akan secara signifikan mengurangi beban pikiran anda.

6. Ingin Menjadi Orang Baik
Orang baik yang sering anda lihat di layar televisi biasanya adalah orang yang kalau marah tetap tenang, langsung ke pokok permsalahan, tidak bermaksud menyakiti orang lain dan selalu mengusahakan jalan terbaik. Pasti anda ingin dipandang orang sebagai orang yang baik. Kalau ingin jadi penjahat, ya terserah anda.

7. Cuek Dan Melupakan Masalah Yang Ada
Ketika rasa marah menyelimuti diri dan kita sadar sedang diliputi amarah maka bersikaplah masa bodoh dengan kemarahan anda. Ubah rasa marah menjadi sesuatu yang tidak penting. Misalnya dalam hati berkata : ya ampun.... sama yang kayak begini aja kok bisa marah, nggak penting banget sich...

8. Berpikir Rasional Sebelum Bertindak
Sebelum marah kepada orang lain cobalah anda memikirkan dulu apakah dengan masalah tersebut anda layak marah pada suatu tingkat kemarahan. Terkadang ada orang yang karena diliatin sama orang lain jadi marah dan langsung menegur dengan kasar mengajak ribut / berantem. Masalah sepele jangan dibesar-besarkan dan masalah yang besar jangan disepelekan.

9. Diversifikasi Tujuan, Cita-Cita Dan Impian Hidup
Semakin banyak cita-cita dan impian hidup anda maka semakin banyak hal yang perlu anda raih dan kejar mulai saat ini. Tetapkan impian dan angan hidup anda setinggi mungkin namun dapat dicapai apabila dilakukan dengan serius dan kerja keras. Hal tersebut akan membuat hal-hal sepele tidak akan menjadi penting karena anda terlalu sibuk dengan rajutan benang masa depan anda. Mengikuti nafsu marah berarti membuang-buang waktu anda yang berharga.

10. Kendalikan Emosi Dan Jangan Mau Diperbudak Amarah
Orang yang mudah marah dan cukup membuat orang di sekitarnya tidak nyaman sudah barang tentu sangat tidak baik. Kehidupan sosial orang tersebut akan buruk. Ikrarkan dalam diri untuk tidak mudah marah. Santai saja dan cuek terhadap sesuatu yang tidak penting. Tujuan hidup anda adalah yang paling penting. Anggap kemarahan yang tidak terkendali adalah musuh besar anda dan jika perlu mintalah bantuan orang lain untuk mengatasinya.

B. Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Orang Lain by organisasi.org :
Untuk meredam amarah orang lain sebaiknya kita tidak ikut emosi ketika menghadapi orang yang sedang dilanda amarah agar masalah tidak menjadi semakin rumit. Cukup dengarkan apa yang ingin ia sampaikan dan jangan banyak merespon. Tenang dan jangan banyak hiraukan dan dimasukkan dalam hati apa pun yang orang marah katakan. Cukup ambil intinya dan buang sisanya agar kita tidak ikut emosi atau menambah beban pikiran kita.

Jika marahnya karena sesuatu yang kita perbuat maka kalau bukan kesalahan kita jelaskanlah dengan baik, tapi kalau karena kesalahan kita minta maaf saja dan selesaikanlah dengan baik penuh ketenangan batin dan kesabaran dalam mengatasi semua kemarahannya. Lawan api dengan air, jangan lawan api dengan api. Semoga berhasil menjinakkan emosi rasa marah anda.
 
 
Wahai saudaraku yang sedang galau ! Marilah banyak berdzikir mengingat Allah agar menjadikan tenang. Maka pahamilah firman Allah yg artinya sbb: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram." (QS Al-Ra'd 13;28)
 
5 Model Kemiskinan Yang Menjadi Bencana Bagi Kita

Saudaraku…

Miskin, barangkali satu keadaan yang menjadi momok menakutkan dan paling tidak diminati oleh sebagian besar dari kita. Bahkan keberadaan kita di negeri rantau ini dan meninggalkan kampung halaman, salah satu faktor penggeraknya adalah lari dari kemiskinan dan memahat masa depan indah secerah mentari pagi. Padahal jika kita cermati arahan nubuwah, kita dapati berbagai sumber yang menunjukan perihal kemuliaan dan kedudukan istimewa yang disandang orang-orang miskin.

“Orang-orang miskin dari umatku masuk ke dalam surga sebelum orang-orang kaya dengan selisih waktu lima ratus tahun.” H.R; Tirmidzi dan Ahmad.

Salah satu do’a yang biasa dibaca oleh Nabi saw, adalah:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar dimudahkan melakukan kebaikan dan meninggalkan kemunkaran serta aku memohon kepada-Mu agar selalu mencintai orang-orang miskin..” H.R; Tirmidzi, Ahmad dan dishahihkan oleh syekh Al Bani.

Dua hadits di atas dan riwayat lain yang senada dengan itu, menunjukan perihal kedudukan orang-orang miskin dan keutamaan mencintai mereka.

Untuk itu saudaraku…

Rasulullah saw dan sebagian sahabatnya, seperti Abu Dzar, Abu Darda’, Said bin Amir al Jumahi dan lainnya, menjadikan kemiskinan sebagai pilihan hidupnya. Di era tabi’in, kaum yang lemah secara finansial mendapatkan perlakuan istimewa. Contohnya, di majlis ilmu dan hadits Sufyan Atsauri, orang-orang yang tak punya, menempati majlis yang berdekatan dengan sang guru. Suatu saat, ada seorang laki-laki memberi hadiah 10.000 dirham kepada Ibrahim bin Adham tetapi ia menolaknya seraya berucap, “Apakah engkau ingin menghapus namaku dari daftar orang-orang miskin?, tentu aku tak menginginkan hal itu.”

Saudaraku..

Sanggupkah kita menolak secara halus orang yang memberi hadiah kepada kita lima ribu real, 10 juta rupiah, 3000 dolar dan seterusnya? Wallahu a’lam bishawab. Dan yang perlu kita waspadai, bahwa di sana ada 5 model kemiskinan yang akan menjadi musibah bagi kita di dunia dan menjadi bencana besar di akherat. Empat model kemiskinan itu disebutkan oleh DR. Mustafa Siba’i dalam bukunya “hakadza allamatnil hayat.” Yaitu; Miskin agama (iman), miskin akal (ilmu pengetahuan), miskin kesabaran dan miskin muru’ah. Dan kita tambahkan model kelima dari kemiskinan, yakni; miskin hati.

Saudaraku..

Perjudian yang marak di mana-mana, pada perhelatan Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina. Prostitusi dari kelas bawah, menengah sampai kelas atas yang menjamur. Kasus korupsi yang tak ada habisnya. Masjid, musholla, suro dan langgar yang sepi dari jama’ah shalat. Dan yang senada dengan itu. Adalah fakta lemahnya pemahaman dan pengamalan agama dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Islam hanya menjadi lipstick pemanis dan baju yang dikenakan oleh si empunya. Seperti judul buku tanpa isi. Jika kita miskin agama (iman), maka kita tak akan sanggup menepis godaan syahwat yang melambai-lambai di sekitar kita dan tak mampu menahan derasnya fitnah. Sehingga pada akhirnya kita menjadi budak syahwat lisan, perut dan kemaluan. Wal ‘iadzu billah.

Saudaraku..

Miskin akal (ilmu pengetahuan), merupakan bencana dalam hidup kita. Terlebih bagi kita sebagai insan beriman. Ilmu ibarat obor dan pelita dalam hidup kita. Pernahkah kita membayangkan, jika suatu saat hidup kita walau hanya satu pekan atau satu malam saja tanpa pelita penerang? Tentu, hidup kita menjadi gelap dan kelabu. Dengan iman, kita akan selamat dari godaan syahwat. Baik syahwat mulut, perut ataupun kemaluan. Tapi hanya dengan iman, kita tidak akan memiliki ketahanan diri yang kuat untuk menghadapi badai syubhat yang datangnya bergelombang silih berganti. Berapa banyak dari kaum muslimin yang terpedaya dengan propaganda JIL (Jaringan Islam Liberal). Dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi pengikut aliran sesat. Yang mudah mengkafirkan kelompok lain dan pondasi agama dibangun atas dasar mengikuti keinginan hawa nafsu semata. Untuk itu, apapun profesi kita. Baik sebagai pejabat Negara, berkiprah di parlemen, pengurus partai politik, pengusaha, wirausaha, pedagang, presenter di televisi, bekerja di dinas pemerintahan, staf pengajar, pelajar, petani, juru kebun dan yang lainnya. Kita berkewajiban untuk selalu memperluas ilmu pengetahuan kita. Baik dengan cara menerima transfer ilmu dari orang lain maupun dengan jalan tarbiyah zatiyah (secara mandiri) dengan membaca buku dan seterusnya. Hal ini kita lakukan demi membentengi diri kita dan orang-orang dekat kita dari terpaan syubhat yang menghancurkan masa depan kita di akherat.

Saudaraku..

Dalam meretasi hidup, tanpa berbekal kesabaran maka kita akan gagal dan terpuruk. Tak berlebihan jika kita katakan bahwa keberhasilan dan kesuksesan kita dalam menjalani hidup, separuhnya ditentukan oleh kesabaran. Artinya orang yang miskin kesabaran, maka masa depannya di dunia akan suram dan di akherat sana ia dapati gelap gulita.

“Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Al Mulk: 2.

Sabar merupakan akhlak terpuji yang menjadi ciri khas seorang mukmin dan paling banyak disebut dalam al Qur’an. Imam al-Ghazali berkata, “Allah swt menyebut kata sabar di dalam al Qur’an lebih dari 70 tempat.”
Ibnul Qayyim pernah mengutip perkataan Imam Ahmad, “Sabar di dalam al Qur’an terdapat di sekitar 90 tempat.”

Sabar kita butuhkan dalam setiap nafas kehidupan kita. Terlebih bagi kita yang sedang mendaki puncak ubudiyah, memerlukan nafas panjang dari kesabaran. Agar kita tidak terengah-engah, mengalami kelelahan jiwa dan mundur dari perjuangan mengukir prestasi di hadapan-Nya. Agar kita senantiasa istiqamah mengukir amal-amal baik dan pahatan amal ketaatan, kita dituntut memakai pakaian kesabaran. Saat kita dirundung duka, dengan kepergian orang-orang tercinta dan kekasih hati, kesabaran mutlak harus kita miliki. Agar kita tak terombang-ambing dalam kesedihan. Agar kita rela dan ridha dengan garis takdir-Nya. Demikian pula sabar menjadi pembeda, kala musibah dan bencana melanda serta terjadi fitnah dalam agama dan hal-hal yang tidak kita harapkan. Mengekang nafsu dan syahwat, agar tak menyeret kita pada perbuatan dosa dan tergelincir dalam lubang maksiat, kita pun mesti menghiasi diri kita dengan kesabaran.

Saudaraku..

Kita kerap mendengar kata muruah dari lisan orang Melayu. Muruah berarti; kehormatan diri, harga diri dan nama baik. Orang yang miskin muruah, maksudnya; orang yang tak memiliki kehormatan diri, tanpa harga diri dan orang yang nama baiknya tercemar dan tercoreng karena perilaku dan perbuatannya sendiri. Muruah melekat pada diri kita, jika kita tak menzalimi hak-hak orang lain. Berpihak kepada kepentingan rakyat jelata, saat berseberangan dengan penguasa yang zalim. Membela nasib si miskin, saat bersengketa dengan orang kaya yang tamak. Menolong mereka yang lemah, saat menghadapi orang kuat yang sombong. Juga saat kita sebagai kepala keluarga, bisa menjadi teladan bagi istri dan anak-anak kita. Sebagai pendidik, kita mampu memberikan keteladanan hidup bagi pendidik lain dan murid-murid kita. Baik di sekolah maupun di lingkungan kita. Dan seterusnya. Intinya, kepribadian yang ringkih dan budi pekerti yang tercela, jika melekat pada diri kita. Siapapun kita. Apapun jabatan dan profesi kita. Di mana pun kita berada. Maka hal itu dapat merusak nama baik dan melenyapkan kewibawaan serta kemuliaan kita. Memiliki akhlak dan kepribadian yang dicintai Allah dan rasul-Nya serta menjadi simat orang-orang mukmin, akan mendekatkan kita pada izzah dan kemuliaan sejati. “Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, bagi rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” Al Munafiquun: 8.

Saudaraku..

Miskin hati. Inilah model kemiskinan yang sangat menyengsarakan dan mendera kita. Membuat galau hati kita. Menjadikan luka menganga di jiwa kita. Kebahagiaan hidup tak pernah kita kecap. Senyuman indah dan keceriaan hati melayang dan punah. Karena kita tak akan pernah puas dengan pemberian-Nya. Tak pernah ridha dengan takdir-Nya. Kekayaan harta yang dimiliki. Apatah lagi ketiadaan harta. Memiliki pendamping hidup, apalagi yang masih hidupnya menyendiri. Sehat yang menyapa tubuh, apalagi sakit yang mendera. Dalam keadaan lapang apalagi sempit. Jabatan yang disandang, apatah lagi rakyat jelata. Hidup di negeri yang aman apatah lagi mukim di tempat konflik. Dan seterusnya. Apapun keadaannya. Jika kita miskin hati. Maka kita tak akan pernah senang melewati hari-hari kita. Lisan tak pernah berhenti dari mengingkari kurnia-Nya. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Dzar ra, “Sesungguhnya hakikat kekayaan adalah kekayaan hati. Dan kemiskinan yang hakiki adalah miskin hati.” H.R; Ibnu Hibban.

Saudaraku..

Kita boleh saja miskin harta, rupa, jabatan, sandang, pangan, papan, kesehatan dan yang senada dengan itu. Tapi jangan sampai kita miskin iman, ilmu pengetahuan, kesabaran, muruah dan hati.

Ya Rabb, jadikanlah kami orang yang memilki kekayaan yang sejati. Kaya iman, ilmu, kesabaran, muruah dan kaya hati. Aamiin ya Mujibas Saailiin.
 
 
Dulu, aku orang yang bersifat pemarah.

Aku tidak bisa meredam amarahku setiap hari. Ayahku menyadari hal ini. Untuk mengurangi rasa amarahku, Ayahku memberikan sekantong paku dan mengatakan kepadaku agar aku memakukan paku itu ke pagar di belakang rumah tiap kali aku marah.

Hari pertama aku bisa memakukan 48 paku ke pagar belakang rumah. Namun secara bertahap jumlah itu berkurang. Aku menyadari bahwa lebih mudah menahan amarah ketimbang memaku paku ke pagar. Akihrnya aku bisa menahan dan mengendalikan amarah ku yang selama ini telah memburuku. Aku memberitakukan hal ini kepada Ayahku.

Ayahku mengatakan agar aku mencabut satu paku di pagar setiap hari dimana aku tidak marah. Hari-hari berlalu dan tidak terasa paku-paku yang tertancap tadi telah aku cabut dan lepaskan semua. Aku memberitahukan hal ini kepada Ayahku bahwa semua paku telah aku cabut.

Ayah tersenyum memandangku, dan ia menuntunku ke pagar. Dan berkata “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya.

“Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas.”

Aku menyadari hal ini bahwa aku setiap kali marah aku teringat pada orang yang aku dendam tersebut. Ayah tambah berkata

“Seperti lubang ini … di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada …dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”

Terima Kasih Ayah, kini aku dapat meredam dan mengendalikan amarahku setiap saat dan setiap waktu.
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.