Memimpin
manusia itu berbeda dengan menggembalakan domba. Anda cukup menggiring mereka
ke padang rumput yang subur, lalu membawanya pulang ke kandang setelah mereka
kenyang. Manusia, setiap individunya mempunyai kehendak yang berbeda-beda.
Bukan sekedar perut belaka bahkan diantara mereka ada yang menginginkan kursi
kita. Maka tentu pendekatannya jauh berbeda.
Saya dulu
pernah menjadi penggembala domba. Saya juga pernah dan sedang mengemban amanah
untuk memimpin manusia. Kedua pengalaman nyata itu membuat saya semakin sadar
bahwa manusia bukanlah domba. Manusia adalah mahluk yang setara dengan kita.
Makanya, mereka menuntut perlakuan yang bermartabat dan rasa hormat dari
atasannya. Saat martabat dan rasa hormat itu mereka dapat, maka mereka tidak
lagi berselera untuk menjadi bawahan yang sulit.
Orang-orang
yang sulit biasa disebut sebagai difficult
people. Bagi seorang atasan, menangani bawahan yang sulit merupakan sebuah
tantangan tersendiri. Hal ini bukan hanya bisa meruntuhkan wibawanya, tetapi
sangat melelahkan hati. Merusak reputasi, dan membikin frustrasi.
Dalam banyak
kasus, orang yang dikira sulit itu tidak selalu benar-benar sulit. Melainkan
atasannya yang belum tahu bagaimana cara membina dan mengarahkannya. Begitu
menerapkan cara memimpin yang tepat, mereka ’berubah’ menjadi orang-orang yang
sangat koperatif.
Apakah Anda
memiliki bawahan yang sulit? Ataukah justru Anda adalah bawahan yang sulit bagi
atasan Anda?
Kebanyakan
orang kegirangan ketika mendapatkan promosi jabatan. Tak jarang yang kemudian
’makan hati’ saat menjalani hari-hari sulit dalam memimpin orang. Bahkan tidak
sedikit yang menutupi ketidakmampuannya dalam memimpin orang lain dengan
memberi label bawahannya sebagai orang sulit.
Secara
objektif, memang ada orang-orang yang sangat sulit diatur hingga tidak segan
untuk melakukan pembangkangan. Mereka pada dasarnya orang-orang yang tidak mau
menerima kepemimpinan atasannya. Namun secara sukyektif, tidak jarang juga ’kesulitan’ itu
ditimbulkan oleh ketidakmampuan atasan untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya
dengan sifat dan karakter bawahan.
Situasi
serupa ini bisa terjadi di perusahaan apapun dan dialami oleh pemimpin yang
manapun. Maka sebagai seorang pemimpin, perlu mengetahui dan memulai dengan
mempraktekkan 5 prinsip Natural Intellligence (NatIn) berikut ini:
1)
Perlihatkan kematangan
Salah satu alasan klasik orang-orang sulit adalah
menilai atasannya sebagai orang yang tidak layak memimpin mereka. Apakah karena
mereka merasa lebih senior, atau lebih berpengalaman, atau sekedar merasa lebih
berhak mendapatkan jabatan itu. Makanya kalimat favorit mereka berbunyi; ”Kamu kira kamu itu siapa?”
Cara terbaik menghadapi mereka adalah dengan
memperlihatkan kematangan kita. Usia, masa kerja dan pengalaman kita boleh saja
tidak lebih banyak dari mereka. Namun, kepemimpinan bukanlah
semata-mata ditentukan oleh hal-hal semacam itu. Ironisnya, banyak atasan yang
menghadapi tantangan seperti ini dengan menggunakan kekuatan jabatan alias position power dengan prinsip “Saya atasan Kamu... suka atau tidak suka, kamu
harus sama perintah saya!”
Efektifkah cara ini? bisa ya, bisa tidak. Tetapi saya
memiliki keyakinan dan pengalaman bahwa kekuatan jabatan itu bisa tidak selalu
diandalkan. Malah sebaliknya bisa semakin menimbulkan penolakan orang-orang yang
sulit. Beda dengan “kematangan”. Cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa bawahan
yang awalnya sulit dan menyepelekan atasannya, kemudian berubah menjadi respek
kepadanya. Hal ini sebagai bukti bahwa kematangan seseorang dalam memimpin
mempunyai dampak langsung kepada rasa hormat anak buahnya.
2)
Tunjukkan rasa hormat
Setiap orang berhak untuk menunjukkan ekspresinya termasuk
perasaannya terhadap pemimpinnya. Anda tidak akan pernah bisa memaksa seseorang
menyukai Anda. Mengapa? Karena perasaan suka dan penghormatan adalah bagian
yang tidak bisa diintervensi oleh orang lain.
Bukankah Anda juga tidak dapat menghormati orang-orang
yang menurut pendapat Anda layak dihormati? Masalahnya, banyak atasan yang
karena kedudukannya merasa dirinya layak dihormati. Padahal, bukan hanya atasan
yang layak mendapatkan penghormatan tetapi bawahan juga memiliki hak yang sama.
Maka gagasannya adalah; bagaimana antara atasan dan bawahan bisa ‘saling
menghormati’.
Siapa yang harus terlebih dahulu menunjukkan rasa
hormat itu jika demikian? “KITA”.
Apalagi jika posisi Anda lebih tinggi dari mereka. Maka Anda perlu memberi
keteladan dengan terlebih dahulu memberi rasa hormat kepada bawahan. Contohnya
seperti memanggil bawahan dengan sebutan “Bapak/Ibu...” bukan dengan namanya
dan sebagainya, meskipun dia saudara ataupun teman kita sebelumnya.
Apakah ini tidak memancing mereka merasa diatas angin
lalu lebih melecehkan? Tentu tidak, karena tidak ada seorang pun bisa
melecehkan orang yang memiliki kematangan dan rasa hormat. Pada akhirnya,
mereka akan menyadari jika sikap hormat Anda kepada mereka layak dibalas dengan
penghormatan yang sama.
3)
Berikan penyadaran
Banyak sekali bawahan yang lupa bahwa sikap sulitnya
hanya akan membuat pekerjaan dan karir mereka semakin sulit. Mereka sering
keliru mengira bahwa kalau bisa melawan atasan berarti mereka adalah
orang-orang yang kuat. Dalam banyak kasus, hal itu berhasil juga. Cukup banyak
atasan yang frustrasi karena bawahannya sehingga kepemimpinannya tidak efektif.
Dampaknya, team
yang dipimpinnya tidak menghasilkan kinerja baik. Walhasil, akhir tahun semuanya
mendapatkan penilaian yang buruk. Bawahan yang sulit sering mengira bahwa dia sudah
merasa menang. Padahal dalam situasi seperti itu, semua orang adalah pecundang.
Atasannya loose, mereka sendiri juga loose. Makanya, sebagai atasan Anda perlu
memberi penyadaran kepada bawahan yang sulit bahwa sikap buruknya hanya
akan merugikan diri mereka sendiri.
Sebagai atasan, Anda memiliki kewajiban untuk memberi
penyadaran ini. Dan mereka berhak untuk mendapatkannya. Anda juga memiliki
kewenangan untuk menilai. Maka jika mereka ingin mendapatkan penilaian yang
baik, mereka harus memperlihatkan sikap dan kinerja yang baik. Jika mereka
ngotot bertindak sulit, maka itu pilihannya sendiri. Jika sadar soal ini, Anda
tidak akan ikut terpuruk. Sebab dari awal Anda tahu harus melakukan apa.
4)
Tegakkan kedisiplinan
Sikap dan perilaku seseorang sepenuhnya menjadi
pilihan dia sendiri. Anda hanya bisa melatihnya, membimbingnya, dan terus
menerus mengingatkannya. Namun, Anda tidak bisa memaksanya. Tapi tidak demikian
dengan kedisiplinan. Itu adalah hak mutlak sebuah perusahaan atau lembaga sedangkan
karyawan wajib mematuhinya.
Oleh sebab itu, meski Anda wajib memberi ruang kepada
bawahan untuk menentukan sikapnya sendiri, namun soal kedisiplinan tidak ada
tawar menawar lagi. Ini bukan soal EGO Anda, melainkan tanggungjawab
Anda dan mereka sendiri sebagai seorang profesional. Anda tidak bisa menghukum
seseorang hanya karena tidak mau bersikap ramah kepada Anda. Namun Anda bisa
menjatuhkan sanksi kepada bawahan yang tidak disiplin.
Dan soal kewenangan itu, merupakan bagian dari paket
amanah kepemimpinan yang Anda
emban. Jika bawahan Anda tidak disiplin, perusahaan akan meminta Anda
pertanggungjawaban. Maka dari awal kepemimpinan, Anda harus mempunyai
kesepakatan soal penegakan kedisiplinan.
Soal menegakkan kedisiplinan ini bukanlah jalan satu
arah. Artinya, Anda sendiri harus disiplin. Jika Anda sendiri tidak disiplin,
wajar kalau anak buah Anda semakin melecehkan. Dan ketidakdisiplinan Anda itu
menunjukkan bahwa Anda memang tidak layak menjadi pemimpin. Menegakkan
kedisiplinan berarti menjadikan diri sendiri dan orang-orang yang Anda pimpin
sama-sama berdisiplin.
5)
Tunjukkan keadilan
Guru kehidupan saya mengatakan bahwa diantara
orang-orang yang paling disayang oleh Tuhan dihari perhitungan amal adalah pemimpin
yang adil. Bukan pemimpin yang salesnya paling tinggi atau yang
bonusnya paling banyak. Mengapa? Karena keadilan itu bukan soal yang gampang
untuk diterapkan.
Jika Anda merasa bawahan Anda tidak sopan, hati Anda
berbisik ’tahu rasa kamu nanti ya!’.
Padahal boleh jadi kinerjanya justru paling baik. Namun karena Anda lebih suka
pada bawahan yang ABS maka penilaian
Anda tetap buruk. Penilaian juga dipengaruhi banyak faktor subyektif lainnya.
Bahkan ada juga pemimpin yang mengancam bawahan untuk melakukan hal-hal yang
tidak relevan dengan pekerjaan. Jika tidak? “Hmmh,
tahu sendiri akibatnya...!’.
Jabatan tinggi itu dekat sekali dengan penindasan dan
kesewenang-wenangan. Keadilan Anda itu menimbulkan rasa hormat bawahan.
Termasuk orang-orang yang Anda anggap paling sulit. Maka sikap adil, sangat
dihargai oleh bumi dan dijunjung tinggi oleh langit. Secara pribadi, Anda boleh
tidak suka atau tidak cocok dengan bawahan Anda. Namun soal keadilan, Anda
tidak memiliki hak untuk mempermainkannya. Mengapa? Karena keadilan adalah
amanah yang dititipkan Tuhan kepada setiap orang yang menyandang gelar sebagai
pemimpin.
Demikian pengetahuan
dan pengalaman saya dalam memimpin manusia bukan domba. Banyak suka dan duka
dalam mengemban amanah ini, karena setiap bawahan memiliki harapan dan
keinginan yang berbeda-beda yang tidak mungkin dapat kita penuhi semua. Yang
terpenting dan perlu diingat dalam kepemimpinan dan manajemen adalah keduanya
bukan hanya sebuah ilmu (knowledge) tapi juga sebuah seni (art).
Oleh sebab itu hadapi
segala tugas dan tanggungjawab dengan penuh amanah, mengingat semakin banyak
dan berat permasalahan yang dihadapai oleh seorang pemimpin maka akan semakin
matang dan dewasa dalam berpikir, bersikap dan berperilaku. Tolok ukur
keberhasilan seorang pemimpin adalah “MENYELESAIKAN MASALAH”, jadi jangan
alergi dengan masalah karena masalah ibarat sahabat bagi seorang pemimpin.
So...Bersyukurlah bagi Anda yang oleh Allah SWT diberikan kesempatan untuk
menjadi KHALIFAH di muka bumi ini, semoga kesuksesan selalu bersama kita. (alex)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.