Senin, 11 Februari 2013

8 Sifat Pemimpin yang Baik



Apa yang terlintas di benak Anda kala mendengar kata pemimpin? Mungkin ada ratusan definisi berbeda yang keluar dari ratusan orang yang berbeda untuk menjelaskan arti kata pemimpin. Namun, secara umum orang sering menghubungkan antara pemimpin dengan hadirnya tindakan koersif dan manipulasi. Persepsi ini sesungguhnya tidak benar.

Menurut William Glasser dalam bukunya, Choice Theory, sesungguhnya di dalam situasi yang paling ekstrem sekalipun, seseorang tidak dapat dipaksa untuk melakukan suatu pekerjaan. Jikalau orang tersebut mau mengerjakan pekerjaan yang dipaksakan itu, biasanya hasil kerjanya tidak memuaskan.

Dalam bukunya tersebut, William menyebutkan 8 (delapan) ciri perilaku yang menggambarkan sifat seorang pemimpin yang baik.

1.        Beri teladan tentang arti sukses kepada bawahan
       Alasan umum seseorang tidak berusaha keras dalam bekerja adalah karena mereka tidak tahu persis tujuan mereka bekerja. Ketidaktahuan tujuan dan arah sering mematahkan motivasi kerja. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para bawahannya.

2.        Beri bawahan Anda peralatan yang mereka butuhkan
       Banyak orang mempersepsikan, tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan masalah bawahannya. Namun, sebenarnya itu bukan tugas Anda sebagai atasan. Daripada terus-menerus turun tangan menyelesaikan masalah orang lain, lebih baik berikan bawahan Anda cara dan rambu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

3.        Jangan sungkan untuk memuji keberhasilan bawahan
Selain kritikan dan masukan, pujian dan apresiasi terhadap hasil kerja bawahan juga dapat menjadi motivasi produktivitas dan membangun kepercayaan diri bawahan untuk lebih sukses lagi.

4.        Berikan ruang untuk kesalahan
       Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik bagi pembelajaran, maka berilah toleransi bagi kesalahan yang dilakukan bawahan. Terkadang kesalahan yang dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus dalam bekerja, akan tetapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal.

5.        Delegasikan tugas tanpa banyak turut campur
       Pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mempercayakan tugas secara penuh kepada bawahannya. Biarkan bawahan mengatasi kendala pekerjaannya sendiri, namun disisi lain pastikan bahwa diri Anda selalu ada dan siap untuk membantu saat bawahan  membutuhkan Anda.

6.        Lebih baik bertanya daripada memberi nasihat
       Seringkali bawahan Anda tahu lebih banyak daripada yang Anda pikir. Tanyakan pendapat mereka tentang masalah-masalah yang sedang mereka hadapi di kantor. Dengan demikian, Anda membantu mereka menyimpulkan sendiri jalan keluar terbaik dari masalah tersebut. Hindari memberi nasihat, karena akan terkesan menggurui.  

7.        Bersikaplah ramah dan sopan
       Aturan mainnya sungguh sederhana, jangan berharap orang lain bersikap ramah dan sopan kepada Anda jika Anda sendiri tidak ramah terhadap orang lain. Seorang pemimpin yang baik tak perlu menjadi galak untuk bisa tegas dan efektif memanajeri bawahannya. Dengan bersikap ramah, Anda akan selalu bisa melihat sisi positif dari setiap karyawan Anda dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik lagi.

8.        Tak kenal maka tak sayang
       Kepemimpinan erat terkait dengan hubungan antar manusia. Saat bawahan percaya bahwa Anda tulus peduli dengan mereka, mereka akan berusaha lebih baik dalam bekerja. Kenali lebih dekat bawahan Anda, dengarkan cerita dan keluh kesahnya. Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari kualitas hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Itulah 8 (delapan) sikap kepemimpinan yang baik yang perlu dipahami bagi seorang pemimpin. Apakah hanya itu ??? Apa tidak bisa cara lain ??? Masih banyak cara-cara lain yang bisa dilakukan seorang pemimpin dalam mengarahkan dan menahkodai sebuah perusahaan yang tentunya berdasarkan pengetahuan dan seni setiap pemimpin. Semoga 8 sikap tersebut bisa menjadi referensi bagi seorang pemimpin. (alex)

Filosofi Perubahan Pada Kupu-Kupu


Proses metamorfosis kupu-kupu telah membuktikan kepadaku bahwa tatkala kupu-kupu masih dalam bentuk ulat di dalam sebuah kepompong, maka di sana terjadi suatu peristiwa yang mirip dengan dormansi, pun seperti bayi di kandungan, ia tak bisa berbuat banyak tapi masa tersebut harus dilaluinya seraya menunggu saat yang tepat untuk beraksi optimal.

Ketika sang ulat yang berada di kepompong berlatih setiap hari untuk meloloskan diri dari kepompongnya, maka terjadi pergerakan dan pertumbuhan yang mengutkannya. Namun, walaupun ulat sudah berubah bentuk menjadi kupu-kupu, tetapi selama ia tetap berada di kepompong, dan tidak berusaha “mendobrak” keterbatasannya, maka seindah apa pun kupu-kupu tersebut ia akan mati di dalamnya. Keluarkanlah keindahanmu, tak perlu kau sembunyikan sendiri, tapi keluarkanlah pada saat yang tepat, pada orang yang tepat.

Kuperhatikan tatkala kupu-kupu berusaha dan berhasil keluar dari kepompong setelah melalui proses “ketidaknyamanan” yang panjang, maka tumbuhlah keindahan baru, yang terkesan hadir secara tiba-tiba. Sungguh, tidak ada yang tiba-tiba di muka bumi ini, semua m berproses engikuti SunnatullahNya...

Tahukah engkau, apa yang terjadi jika ada manusia yang coba ‘berbaik hati’ kepada kupu-kupu yang masih terkukung di dalam kepompong itu, yaitu mencoba membantunya dengan cara membukakan lubang kepompong tersebut sehingga kupu-kupu tersebut bisa keluar dengan mudah? Ya, karena kupu-kupu keluar dengan mudah, maka otot-ototnya tidak terlatih untuk bertarung dengan alam yang liar. Sehingga wajar saja bantuan dari manusia tersebut justru melahirkan kupu-kupu yang lemah bahkan cepat mati

Memang perjuangan itu jarang yang diawali dengan mudah, dan perubahan itu tidaklah selalu diawali rasa nyaman. Namun kehidupan pun seringkali membuktikan bahwa di balik ketidakmudahan dan ketidaknyamanan hidup terdapat kekuatan dan kenikmatan yang luar biasa. Itu sebabnya mengapa aku harus OPTIMIS, yaitu menghadirkan kebahagiaan pikiran dan perasaan terlebih dahulu, sebelum kebahagiaan fisik aku dapatkan. Rasa itu sejati, Fisik itu fana ....

Wallahu alam

Terapi "Sakit Hati"


MEMAAFKAN itu MENYEHATKAN, dan MENGELUH/KESAL/DENDAM itu awal mula hadirnya PENYAKIT... Sayangilah dirimu sahabat dengan banyak memaafkan... sudahlah..maafkan saja..maafkan saja... sayangi dirimu.. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang menzalimi dirinya sendiri

Sahabat Motivasi, pernahkah Anda sakit Hati? Atau, pernahkah Anda menyakiti hati orang lain? Dan, menurut Anda, apa yang lebih penting untuk dihindari, merasa sakit hati atau menyakiti hati orang lain?
Banyak orang yang mengatakan, “lebih baik sakit gigi, dari pada sakit di hati....”.

Masya Allah, pantas saja jika mereka berkeyakinan seperti itu, maka mereka menjadi sering sakit gigi dan juga tidak menghilangkan sakit di hatinya.
Sahabat Motivasi, kalau Anda menyakiti hati orang lain, sesungguhnya Anda belum tentu berbuat salah, tapi bisa jadi karena orang tersebut tidak bisa menerima kebenaran yang Anda sampaikan. Tetapi, kalau Anda sakit hati karena perbuatan atau perkataan orang lain, maka sesungguhnya Anda sedang menzalimi diri Anda sendiri. Padahal, banyak sekali ayat di Al-Quran yang melarang kita untuk “menzalimi diri sendiri”.

Jangan pernah berhenti melangkah menegakkan kebaikan dan kebenaran hanya lantaran ada orang yang sakit hati dengan apa yang Anda lakukan. Ketahuilah, ketika standar kebenaran itu adalah perasaan orang lain maka Anda akan kesulitan untuk menegakkan kebenaran yang sejati di muka bumi ini. Artinya, jika Anda selalu khawatir ada orang yang sakit hati dengan apa yang Anda lakukan ketika Anda menegakkan kebenaran, maka wajar saja Anda akan kesulitan membuka tabir kebenaran yang sejati.
Anda bisa bayangkan, ketika Rosulullah saw pertama kali mendakwahkan Islam, berapa banyak orang yang sakit hati sebab dakwah Rosulullah saw yang membawa kalimat "Laa Ilaaha Illaallaah" . Betapa banyak yang tersungging karena Rosulullah Muhammad saw menyatakan bahwa Tuhan yang mereka sembah selama ini adalah salah. Tapi apakah Rosulullah berbuat dosa karena menyakiti perasaan para paman, sahabat, dan rekan-rekan bisnisnya? Tentu tidak....

Artinya, jangan sampai Anda hentikan gerakan Anda hanya lantaran ada orang yang sakit hati, tapi hentikanlah gerakan Anda karena memang Allah melarang dan tidak meridhoi apa yang Anda lakukan.
Namun demikian, Anda bisa jadikan bahan instrospeksi apabila akibat "gerakan" atau "kata-kata" Anda ada orang yang tersakiti hatinya. Mungkin saja Anda bergerak terlalu ekstrim, padahal Rosulullah menyuruh kita berdakwah dengan cara yang baik, lembut, dan bermusyawarah.

Atau bisa saja hal itu sebagai indikasi bahwa memang apa yang Anda lakukan menyimpang dari nilai-nilai kebenaran, sehingga wajar banyak yang sakit hati kepada Anda lantaran apa yang Anda lakukan.
Tapi tentu saja, sakit hati tetaplah bukan hal yang baik.... Kalau kita menyakiti hati seseorang mungkin saja kita tidak berdosa, sebab bisa jadi orang itu sakit hati karena memang hatinya tidak bersih, sehingga tidak siap dengan hal baik yang kita sampaikan dan kita lakukan. Tapi... kalau kita yang sakit hati karena perkataan dan perbuatan orang lain, berarti kita telah mengotori hati kita.... menzalimi diri sendiri...

Nah, apakah Anda hari ini sedang sakit hati dengan polah seseorang? Atau karena polah sekelompok orang?
Jadi, sebenarnya, mengenai SAKIT HATI ini adalah mengenai sejauh mana Anda bisa tetap berpegang teguh kepada tuntunan Allah dan RosulNya. Satu riwayat yang menarik untuk Anda tentang sakit hati. Dalam sebuah peperangan, Imam Ali ra berhasil menjungkalkan lawan tandingnya. Ketika akan ditusuk, meludahlah musuh itu tepat mengenai wajahnya sehingga Imam Ali tidak jadi membunuhnya. "Ali, kenapa engkau tidak jadi membunuhku?" Imam Ali menjawab, "Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah, tetapi karena ludah". Subhanallah, Ali ra tidak mau membunuh musuhnya lantaran sakit hati ketika ia diludahinya.

Sahabat Motivasi, artinya sakit hati itu adalah perbuatan yang tidak baik. Dan memang betapa banyak penyakit yang berbahaya hadir di awali dari rasa sakit hati yang tak diobati dengan tuntas. Sehingga, mulai hari ini, Anda tidak boleh mengatakan "Sakit hati itu kan manusiawi... wajar dong kalau saya sakit hati karena dia telah mencuekkan dan menghina saya..."
Ya, mungkin saja sakit hati itu manusiawi....tetapi ketahuilah bahwa tidak semua yang "manusiawi" itu baik untuk kebersihan hati manusia. jadi, pernyataan "manusiawi" tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita boleh berbuat dosa/salah...

Sesungguhnya, tak seorang pun dapat menyakiti hati Anda, kalau Anda tidak mengizinkannya. Sungguh, tak seorang pun dapat menyakiti hati Anda kalau Anda sudah begitu dekat dengan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang....
Nah, Bagaimana kalau terlanjur sakit hati? Apa yang harus dilakukan? Nah, ketika sakit hati menghampirimu, maka segeralah ber-istighfar dengan sepenuh hati. Mohon ampunlah kepada Allah karena Anda merasa sakit hati. Yang jadi masalah adalah, ketika Anda tidak merasa bahwa sakit hati itu adalah perbuatan yang menzalimi diri sendiri, sehingga otomatis Anda pun menjadi enggan beristighfar ketika Anda merasa sakit hati.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rusulullah Saw.
Anas bercerita, “Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah Saw., kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.” Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.” Esok harinya, Rasulullah Saw. berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.

Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash Ra. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian beliau berkata kepadanya : “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu ?” kata Abdullah bin Amr bin Al-Ash.
Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang itu selama tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.

Kata Abdullah, “Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata: “Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah Saw. berkata tentang dirimu sampai tiga kali, “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”
“Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan.” Kata orang tersebut. Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.”

Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.
Memiliki hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah yang seringkali sulit kita lakukan. Mungkin kita mampu berdiri di malam hari, sujud dan rukuk di hadapan Allah Swt., akan tetapi amat sulit bagi kita menghilangkan kedengkian kepada sesama kaum Muslim, hanya karena kita pahamnya berbeda dengan kita. Hanya karena kita pikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda dengan kita. Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah, dan kelebihan itu tidak kita miliki. “Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan.” kata Abdullah bin Amr.

Nah maafkan saja apapun kesalahan orang lain terhadap Anda. Memang tidak mudah, tapi lebih tidak mudah lagi jika Anda tidak mau memaafkan. Memaafkan memang tidak mengubah apapun di masa lalu, tapi memaafkan akan memperindah kehidupan Anda hari ini dan hari esok. Rasa sakit yang difasilitasi justru akan mengundang rasa sakit yang lebih besar.

Berikut adalah teknik memaafkan agar lebih mudah dan kebahagiaan pun dekat dengan Anda :
1. Ingat Allah
2. Ingat masalahnya/orangnya yang belum dimaafkan
3. Tarik nafas yang dalam seolah-olah mengikat semua emosi negatif......
4. tahan sebentar..2-3 detik......
5. Hembuskan seraya beristighfar..dan. Astaghfirullaahl azhiim.. fokuslah terus kepada Allah...
6. dan ucapkanlah : "Ya Allah saya maafkan dia..saya ikhlas...saya sudah menerima dengan tenang...karena semua adalah milikMu..semua adalah ketetapanMu...dan maafkan aku ya Allah"
7. ucapkalah.. Alhamdulillah... dan jika masih ada rasa sakit hatinya, maka ulangi kembali..insya Allah hati Anda menjadi tenang....


Wallahu’alam bish showab…

FILOSOFI DIBALIK TEMBANG “GUNDUL-GUNDUL PACUL” DALAM KEPEMIMPINAN


Seorang pemimpin harus memiliki motivasi sebelum memotivasi orang lain. Ia tidak dapat memotivasi orang lain jika dia sendiri tak memilikinya. Sikap seorang pemimpin akan berpengaruh langsung terhadap sikap karyawan. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu mengendalikan suasana hati dan menunjukkan hanya sikap yang positif dan menghindarkan hal-hal yang bersifat negatif.

Sahabat MASIH ingatkah dengan tembang jawa “GUNDUL-GUNDUL PACUL”?, Tembang ini mengandung filosofi sederhana tapi sangat mulia. Berikut ini lirik lagu tersebut:

“ Gundul gundul pacul - cul, gembelengan..
Nyunggi-nyunggi wakul - kul, gembelengan...
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…

Tembang ini menurut sejarahnya diciptakan pada tahun 1400-an oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia. Adapun makna filosofi adalah sebagai berikut:

GUNDUL
GUNDUL merupakan sebutan yang diberikan pada seseorang yang kepalanya plontos tidak memiliki rambut.
Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang.
Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.
Maka GUNDUL memiliki makna “KEHORMATAN YANG TANPA MAHKOTA”

PACUL
Sedangkan PACUL nama lainnya cangkul yaitu sebuah benda yang terbuat dari lempeng besi segi empat yang biasanya digunakan oleh petani untuk mencangkul sawah dan sebagainya.
PACUL adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah kaum petani

Jadi GUNDUL PACUL mengandung makna bahwa “seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah seorang pembawa pacul untuk mencangkul dan mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya”

Orang Jawa mengatakan PACUL adalah PAPAT KANG UCUL (empat yang lepas) artinya bahwa  kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 (empat) hal, yaitu:
bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.
1)        Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat
2)        Telinga digunakan untuk mendengar nasehat
3)        Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan
4)        Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya


GEMBELENGAN
GEMBELENGAN artinya: besar kepala, sombong serta suka bermain-main dalam menggunakan kehormatannya (menyalahgunakan kewenangannya).

Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Tetapi dia malah:
1. Menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya.
2. Menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia.
3. Dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

NYUNGGI WAKUL
NYUNGGI WAKUL mengandung makna seseorang yang membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya.
Banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul di kepalanya.

WAKUL merupakan simbol kesejahteraan rakyat, kekayaan negara dan sumberdaya, yang di dalamnya berisi PAJAK. Hal ini berarti bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat.

Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul? Tentu saja pemilik bakul sedangkan pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya.


WAKUL NGGLIMPANG SEGANE DADI SAK LATAR
Masih banyak pemimpin yang masih gembelengan (melenggak lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main) akibatnya WAKUL NGGLIMPANG SEGANE DADI SAK LATAR artinya bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.

Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat.

Semoga kita jadi pribadi yang memiliki integritas sehingga siap menjadi suri tauladan dimanapun kita berada. Semoga dapat menjadi inspirasi...

Wallahua’lam (Salam Sukses - Al Fakir)