MEMAAFKAN itu MENYEHATKAN, dan MENGELUH/KESAL/DENDAM itu awal
mula hadirnya PENYAKIT... Sayangilah dirimu sahabat dengan banyak memaafkan...
sudahlah..maafkan saja..maafkan saja... sayangi dirimu.. dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang menzalimi dirinya sendiri
Sahabat Motivasi, pernahkah Anda sakit Hati? Atau, pernahkah Anda menyakiti
hati orang lain? Dan, menurut Anda, apa yang lebih penting untuk dihindari,
merasa sakit hati atau menyakiti hati orang lain?
Banyak orang yang mengatakan, “lebih baik sakit gigi, dari pada sakit di
hati....”.
Masya Allah, pantas saja jika mereka berkeyakinan seperti itu, maka mereka
menjadi sering sakit gigi dan juga tidak menghilangkan sakit di hatinya.
Sahabat Motivasi, kalau Anda menyakiti hati orang lain, sesungguhnya Anda belum
tentu berbuat salah, tapi bisa jadi karena orang tersebut tidak bisa menerima
kebenaran yang Anda sampaikan. Tetapi, kalau Anda sakit hati karena perbuatan
atau perkataan orang lain, maka sesungguhnya Anda sedang menzalimi diri Anda
sendiri. Padahal, banyak sekali ayat di Al-Quran yang melarang kita untuk
“menzalimi diri sendiri”.
Jangan pernah berhenti melangkah menegakkan kebaikan dan kebenaran hanya
lantaran ada orang yang sakit hati dengan apa yang Anda lakukan. Ketahuilah,
ketika standar kebenaran itu adalah perasaan orang lain maka Anda akan
kesulitan untuk menegakkan kebenaran yang sejati di muka bumi ini. Artinya,
jika Anda selalu khawatir ada orang yang sakit hati dengan apa yang Anda
lakukan ketika Anda menegakkan kebenaran, maka wajar saja Anda akan kesulitan
membuka tabir kebenaran yang sejati.
Anda bisa bayangkan, ketika Rosulullah saw pertama kali mendakwahkan Islam,
berapa banyak orang yang sakit hati sebab dakwah Rosulullah saw yang membawa
kalimat "Laa Ilaaha Illaallaah" . Betapa banyak yang tersungging
karena Rosulullah Muhammad saw menyatakan bahwa Tuhan yang mereka sembah selama
ini adalah salah. Tapi apakah Rosulullah berbuat dosa karena menyakiti perasaan
para paman, sahabat, dan rekan-rekan bisnisnya? Tentu tidak....
Artinya, jangan sampai Anda hentikan gerakan Anda hanya lantaran ada orang yang
sakit hati, tapi hentikanlah gerakan Anda karena memang Allah melarang dan
tidak meridhoi apa yang Anda lakukan.
Namun demikian, Anda bisa jadikan bahan instrospeksi apabila akibat
"gerakan" atau "kata-kata" Anda ada orang yang tersakiti
hatinya. Mungkin saja Anda bergerak terlalu ekstrim, padahal Rosulullah
menyuruh kita berdakwah dengan cara yang baik, lembut, dan bermusyawarah.
Atau bisa saja hal itu sebagai indikasi bahwa memang apa yang Anda lakukan
menyimpang dari nilai-nilai kebenaran, sehingga wajar banyak yang sakit hati
kepada Anda lantaran apa yang Anda lakukan.
Tapi tentu saja, sakit hati tetaplah bukan hal yang baik.... Kalau kita
menyakiti hati seseorang mungkin saja kita tidak berdosa, sebab bisa jadi orang
itu sakit hati karena memang hatinya tidak bersih, sehingga tidak siap dengan
hal baik yang kita sampaikan dan kita lakukan. Tapi... kalau kita yang sakit
hati karena perkataan dan perbuatan orang lain, berarti kita telah mengotori
hati kita.... menzalimi diri sendiri...
Nah, apakah Anda hari ini sedang sakit hati dengan polah seseorang? Atau karena
polah sekelompok orang?
Jadi, sebenarnya, mengenai SAKIT HATI ini adalah mengenai sejauh mana Anda bisa
tetap berpegang teguh kepada tuntunan Allah dan RosulNya. Satu riwayat yang
menarik untuk Anda tentang sakit hati. Dalam sebuah peperangan, Imam Ali ra
berhasil menjungkalkan lawan tandingnya. Ketika akan ditusuk, meludahlah musuh
itu tepat mengenai wajahnya sehingga Imam Ali tidak jadi membunuhnya.
"Ali, kenapa engkau tidak jadi membunuhku?" Imam Ali menjawab,
"Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah, tetapi karena ludah".
Subhanallah, Ali ra tidak mau membunuh musuhnya lantaran sakit hati ketika ia
diludahinya.
Sahabat Motivasi, artinya sakit hati itu adalah perbuatan yang tidak baik. Dan
memang betapa banyak penyakit yang berbahaya hadir di awali dari rasa sakit
hati yang tak diobati dengan tuntas. Sehingga, mulai hari ini, Anda tidak boleh
mengatakan "Sakit hati itu kan manusiawi... wajar dong kalau saya sakit
hati karena dia telah mencuekkan dan menghina saya..."
Ya, mungkin saja sakit hati itu manusiawi....tetapi ketahuilah bahwa tidak
semua yang "manusiawi" itu baik untuk kebersihan hati manusia. jadi,
pernyataan "manusiawi" tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita boleh
berbuat dosa/salah...
Sesungguhnya, tak seorang pun dapat menyakiti hati Anda, kalau Anda tidak
mengizinkannya. Sungguh, tak seorang pun dapat menyakiti hati Anda kalau Anda
sudah begitu dekat dengan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang....
Nah, Bagaimana kalau terlanjur sakit hati? Apa yang harus dilakukan? Nah,
ketika sakit hati menghampirimu, maka segeralah ber-istighfar dengan sepenuh
hati. Mohon ampunlah kepada Allah karena Anda merasa sakit hati. Yang jadi
masalah adalah, ketika Anda tidak merasa bahwa sakit hati itu adalah perbuatan
yang menzalimi diri sendiri, sehingga otomatis Anda pun menjadi enggan
beristighfar ketika Anda merasa sakit hati.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik
menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama
Rusulullah Saw.
Anas bercerita, “Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah Saw., kemudian
beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki
penghuni surga.” Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah
dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.”
Esok harinya, Rasulullah Saw. berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki
penghuni surga.” Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang
sampai tiga kali.
Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash Ra. mencoba
mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu.
Kemudian beliau berkata kepadanya : “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan
saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan
menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu
?” kata Abdullah bin Amr bin Al-Ash.
Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang
itu selama tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa
gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah sebagai
penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang
istimewa di dalam ibadahnya.
Kata Abdullah, “Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya
sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata: “Hai
hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku
menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah Saw. berkata tentang dirimu sampai
tiga kali, “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin
memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal
yang sama aku mencapai kedudukanmu.”
“Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan.” Kata orang
tersebut. Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian
berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu.
Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum
Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan
yang diberikan Allah kepada mereka.”
Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek
dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya
yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang
tidak pernah bisa kami lakukan.
Memiliki hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum
Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah yang seringkali sulit
kita lakukan. Mungkin kita mampu berdiri di malam hari, sujud dan rukuk di
hadapan Allah Swt., akan tetapi amat sulit bagi kita menghilangkan kedengkian kepada
sesama kaum Muslim, hanya karena kita pahamnya berbeda dengan kita. Hanya
karena kita pikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda dengan kita.
Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah, dan kelebihan
itu tidak kita miliki. “Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan.” kata
Abdullah bin Amr.
Nah maafkan saja apapun kesalahan orang lain terhadap Anda. Memang tidak mudah,
tapi lebih tidak mudah lagi jika Anda tidak mau memaafkan. Memaafkan memang
tidak mengubah apapun di masa lalu, tapi memaafkan akan memperindah kehidupan
Anda hari ini dan hari esok. Rasa sakit yang difasilitasi justru akan
mengundang rasa sakit yang lebih besar.
Berikut adalah teknik memaafkan agar lebih mudah dan kebahagiaan pun dekat
dengan Anda :
1. Ingat Allah
2. Ingat masalahnya/orangnya yang belum dimaafkan
3. Tarik nafas yang dalam seolah-olah mengikat semua emosi negatif......
4. tahan sebentar..2-3 detik......
5. Hembuskan seraya beristighfar..dan. Astaghfirullaahl azhiim.. fokuslah terus
kepada Allah...
6. dan ucapkanlah : "Ya Allah saya maafkan dia..saya ikhlas...saya sudah
menerima dengan tenang...karena semua adalah milikMu..semua adalah
ketetapanMu...dan maafkan aku ya Allah"
7. ucapkalah.. Alhamdulillah... dan jika masih ada rasa sakit hatinya, maka
ulangi kembali..insya Allah hati Anda menjadi tenang....
Wallahu’alam bish showab…